Dimana tempatku bernaung?

Pada langit malam ibu kota,suara deru mesin mobil-mobil berkoar-koar,
hiruk-pikuk jalanan malam ibu kota mengalirkan suara keramaian tanpa henti ,
tanpa sebentar pun jeda untuk keheningan sesaat.
Kelap-kelip lampu jalanan dan gedung-gedung menambah gemerlapnya malam ibu kota,
tetapi disitu hidup sepotong hati yang terus membawa sepi,
yang selalu mencari tempat untuk bernaung,bersandar melepaskan kesepian yang telah dia pikul kemana-mana selama ini.Adakah di sini,
dia bergumam pada dirinya sendiri memakai suara hati tentunya yang hanya dia sendiri yang bisa mendengarkan,
terjebak diantara semua kebisingan suara-suara kegemerlapan malam ibu kota,suara itu menyahut di dalam hati.
Apakah disini tempat dia bisa bersandar sementara,
bernaung sejenak melepaskan kelelahan ini.
Di sini, sebuah kedai kopi di pinggiran jalan,diantara kegemerlapan malam,di tengah pusat keramaian ibu kota,
di pojok sebuah meja yang terbuka menghadap jalanan malam itu,apakah di sini dia cukup aman untuk bersandar,tanggalkan sejenak kelelahan ini?

“tidak….”suara hati itu menjawab.

“aku terjebak diantara semua kebisingan itu,suara-suara tertawaan ,
deru mesin-mesin,dan lampu kelap-kelip itu,semua suara itu seakan-akan menyumbat semua suara hati yang sudah bergemuruh di dalam.
Dia berteriak-teriak di dalam,adakah mendengarnya? tentu tidak karena dia kalah berisiknya dibanding dengan suara- suara itu.”

Lalu dimanakah aku harus menumpahkanmu,
membiarkanku juga tenang sejenak dari gangguanmu yang selalu berteriak padaku walau kamu pun tahu aku tiada berdaya melawan mereka-mereka di luar sana.
Kamu mungkin tidak mengetahuinya,bahwa aku harus terjepit diantara kamu dan mereka-mereka,
kamu dan mereka bagai pro dan kontra dan aku ditengah-tengahnya.
Kemanapun aku membawamu,di situ aku selalu terjebak.
Kamu tahu bahwa mereka selalu berteriak-teriak kepadaku,dan kamu juga selalu berteriak-teriak padaku,
memintaku melakukan apa yang kamu inginkan,
namun aku harus selalu berkompromi dengan mereka hanya supaya tetap bisa hidup,
dan hidup itu juga demi kamu.Kamu berteriak capek,tetapi tahukah aku juga sangat capek karena semua teriak-teriakan itu.

“tapi,aku tidak bisa diam selalu kamu masih ada,selama detak jantungmu masih terdengar olehku”Kata suara hati.

Aku dan kamu bagai seekor burung yang di lepas dari sarang,terbang mencari satu tempat untuk bernaung.
Memilih satu pohon yang cocok untuk dijadikan tempat kita menetap,jadikan itu rumah.Tetapi,
sebelum menemukannya,kesana kesini kita harus hinggap di dahan mana saja ,
menghindar dari sergapan hujan dan petir yang Sewaktu-waktu menyambar.
Kehidupan luar tidak akan pernah berkompromi dengan kita.Hidup ini,kitalah Yang harus berkompromi dengan mereka.

Aku dan kamu,kita bagaikan sebuah botol yang terhempaskan bersama lautan.
Aku adalah botol itu sendiri dan kamu adalah ruang di dalam botol itu.Kita,
terombang-ambing di tengah lautan,di permainkan oleh ombak yang terkadang menerjang kita ke pantai,
terkadang menghempaskan kita ke batu karang,
lalu menarik kita kembali ke lautan lepas.Mereka berkuasa sepenuhnya,
mungkin kamu menginginkan ketenangan sementara kita tengah berada di tengah lautan yang menerjangkan badai dengan ombaknya yang bergulung-gulung.

Ada kalanya,angin mengajak kamu bicara lewat diriku.
Suara laut mengajak kamu bermain lewat diriku,dan cahaya senja mengajak kamu bernostagia lewat diriku,
di situlah tempat-tempat terindah dimana.Kamu,aku dan mereka semua,
kita berkumpul bersama dengan nyanyian-nyanyian yang saling menyatu.
Di situlah,aku berlabuh walau itu pun hanya sejenak,
karena hidup penuh dengan babak-babak yang tak terduga.
Terkadang cerah mendatangkan hujan,hujan mendatangkan cerah.
Tahukah,disini aku pun mewakili dirimu untuk menulis,
supaya mereka tahu itulah keinginanmu,itulah bahasamu.
Supaya,mereka pun bisa memahamimu.

“putarkan sebuah lagu untukku,aku ingin rangkaikan ini semua bersamamu,bersama dengan malam juga”kata suara hati

Aku pun mengalirkan sebuah simfoni indah bersamanya,di pojok sebuah kedai kopi,bersama dengan malam denpasar.
di tulis di sebuah kedai kopi menjelang malam,dengan segelas kopi yang kini menyisakan ampas.

Iklan